https://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/issue/feedJurnal Aplikasi Meteorologi2022-05-15T16:20:58+00:00Open Journal Systems<p><strong>Jurnal Aplikasi Meteorologi (JAM)</strong> merupakan jurnal ilmiah peer-review akses terbuka yang diterbitkan oleh <strong>Program Studi Meteorologi, Sekolah Tinggi Meteorologi, Kliamatologi dan Geofisika</strong>. Jurnal ini menerbitkan pencapaian dan perkembangan terbaru di bidang ilmu atmosfer, terutama dalam hal berikut: meteorologi murni dan terapan, klimatologi dan perubahan iklim, meteorologi laut, fisika dan kimia atmosfer, fisika awan dan modifikasi cuaca, prediksi cuaca numerik, asimilasi data, suara atmosfer dan penginderaan jauh, lingkungan atmosfer dan polusi udara, radar dan meteorologi satelit, meteorologi pertanian dan hutan, dll. Jurnal ini dimaksudkan untuk memberikan dasar untuk memperkuat pertukaran naisonal dan internasional inovasi ilmiah dan pemikiran antara ahli meteorologi Indonesia dan asing. Ini berisi makalah akademis, sorotan program penelitian, ulasan buku, laporan konferensi, dan diskusi komprehensif tentang penelitian meteorologi yang dilakukan baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.</p>https://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/article/view/14Analisis Sifat Hujan dan Rata-Rata Temperatur Udara Bulanan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Mas Periode 2015-2019 Terhadap Data Normal Selama 30 Tahun2022-05-15T10:26:02+00:00Nany Nuraininaninuraini59@gmail.comNurul Izzah Fitrinaninuraini59@gmail.com<p>Pengaruh perubahan iklim yang disebabkan oleh Pemanasan global (global warming) sangat penting untuk dipelajari. Parameter perubahan iklim yang berpengaruh di Indonesia diantaranya adalah curah hujan dan suhu udara. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin membuktikan adanya perubahan iklim yang terjadi dengan cara menganalisa sifat hujan dan suhu udara selama lima tahun terkahir dibandingkan dengan rata-rata normalnya selama 30 tahun di wilayah Semarang, Jawa Tengah menggunakan metode statistik rata-rata dan pengklasifikasian sifat hujan terhadap normalnya. Data yang digunakan adalah data suhu udara rata-rata bulanan dan juga akumulasi curah hujan bulanan selama 5 tahun (2015 s.d. 2019) serta data periode normalnya selama 30 tahun (1981 s.d. 2010) yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Emas, Semarang. Hasilnya adalah sifat hujan selama lima tahun didominasi oleh kategori bawah normal (BN) baik pada periode DJF (musim hujan) maupun periode JJA (musim kemarau) kemudian untuk suhu udara bulanan selama lima tahun mengalami tren kenaikan dari rata-rata normalnya. Hasil analisa curah hujan dan suhu udara tersebut membuktikan bahwa terdapat perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global di wilayah Semarang.</p>2022-05-15T00:00:00+00:00Copyright (c) 2022 Jurnal Aplikasi Meteorologihttps://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/article/view/15Pengaruh Asimilasi Data Radiance Satelit pada Model WRF (Weather Research and Forecasting) untuk Prediksi Siklon Tropis Frances2022-05-15T15:09:20+00:00Agung Hari Saputraagung.hs@stmkg.ac.idRifqi Mulyana Muchtaragung.hs@stmkg.ac.idSirly Oktarinaagung.hs@stmkg.ac.id<p>Model Weather Research and Forecasting-Advanced Research (WRF-ARW) merupakan salah satu model prediksi cuaca numerik regional yang paling populer yang digunakan oleh operasional prakiraan dan penelitian. Namun, permasalahan dalam model ini berkaitan dengan tingkat keakuratan pada data awal model. Salah satu teknik untuk memperbaiki kondisi awal dan performa model adalah dengan asimilasi data teknik Three-Dimensional Variation (3DVar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asimilasi data radiance satelit dalam memprakirakan kejadian siklon tropis yang wilayah pembentukannya terjadi di dekat Indonesia siklon tropis Frances (2017). Penelitian ini juga melakukan konfigurasi parameterisasi pada skema mikrofisis dan skema konveksi dimana pada kajian sebelumnya kedua skema ini berpengaruh terhadap estimasi intensitas dan lintasan siklon tropis. Enam eksperimen model dijalankan menggunakan data satelit AMSU-A, MHS dan AHI Himawari-8 sebagai data observasi untuk diasimilasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asimilasi data radiance satelit secara umum mampu memperbaiki performa model dalam memprediksi kejadian siklon tropis dengan baik. Lebih lanjut, eksperimen asimilasi terpilih pada masing-masing kasus kejadian siklon tropis mampu menurunkan kesalahan prediksi model sekitar 2%. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bahwa asimilasi data radiance mampu mengurangi kesalahan pada lintasan dan intensitas siklon tropis.</p>2022-05-15T00:00:00+00:00Copyright (c) 2022 Jurnal Aplikasi Meteorologihttps://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/article/view/16Perbandingan Produk Estimasi Curah Hujan Global Precipitation Measurement (GPM) dan Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) di Wilayah Kalimantan Tahun 20202022-05-15T15:16:33+00:00Nur Habib Muzakiahmad.fadlan@stmkg.ac.idIqbal Nur Wijayaahmad.fadlan@stmkg.ac.idMitra Agritamiahmad.fadlan@stmkg.ac.idRadhite Fadly Ramdaniahmad.fadlan@stmkg.ac.idAhmad Fadlanahmad.fadlan@stmkg.ac.id<p>Curah hujan merupakan salah satu parameter meteorologi yang sangat penting untuk diperhatikan karena dapat digunakan untuk mengetahui penyebab fenomena hidrometeorologi. Pengamatan curah hujan secara langsung yang tidak merata di setiap wilayah serta keterbatasan cakupannya menyebabkan dibutuhkannya alat penginderaan jauh seperti satelit yang memiliki cakupan spasial dan temporal yang lebih baik. Satelit yang biasa digunakan untuk mengestimasi curah hujan di wilayah indonesia adalah satelit (Global Precipitation Measurement) GPM dan (Global Satellite Measurement of Precipitation) GSMaP. Data satelit curah hujan tersebut selanjutnya akan di verifikasi terhadap data curah hujan observasi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi curah hujan dari satelit mana yang lebih baik terhadap data observasi di wilayah Kalimantan pada tahun 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa satelit GPM dapat mengestimasi curah hujan lebih baik dibandingkan dengan satelit GSMaP. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai korelasi yang lebih besar serta nilai error yang lebih kecil dari satelit GPM di tujuh titik yang berbeda. Akan tetapi, hasil kedua estimasi dari satelit tersebut memiliki nilai yang cenderung lebih besar terhadap data observasi. Sehingga untuk estimasi curah hujan di wilayah Kalimantan, satelit GPM cenderung lebih baik digunakan daripada satelit GSMaP.</p>2022-05-15T00:00:00+00:00Copyright (c) 2022 Jurnal Aplikasi Meteorologihttps://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/article/view/17Studi Awan Konvektif Penyebab Hujan Es Menggunakan Radar Cuaca Doppler Single Polarization di Bogor (23 September 2020)2022-05-15T15:22:49+00:00Suwignyo Prasetyoprasetyosuwignyo8@gmail.comSyaidi Abdilahprasetyosuwignyo8@gmail.comImma Redha Nugraheniprasetyosuwignyo8@gmail.comNovvria Sagitaprasetyosuwignyo8@gmail.com<p>Fenomena hujan es yang disertai dengan intensitas curah hujan tinggi dan angin kencang terjadi di Bogor pada tanggal 23 September 2020. Penelitian ini mencoba mengkaji mekanisme terjadinya hujan es tersebut dengan memanfaatkan radar cuaca <em>doppler</em> (<em>doppler</em><em> weather radar</em>, DWR) Cengkareng. Terdapat empat poin yang menjadi fokus utama penelitian yaitu meninjau kondisi atmosfer, menganalisis proses fisis dan dinamis awan, menganalisis mekanisme inisiasi konvektif, dan mengestimasi peluang terjadinya hujan es. Hasilnya analisis menunjukkan bahwa hujan es terjadi disebabkan oleh ketidakstabilan atmosfer yang mendukung proses konveksi skala lokal serta didukung dengan kandungan uap air yang cukup tinggi di atmosfer. Awan yang menjadi penyebab hujan es merupakan jenis awan multisel dengan total terdapat tiga sel. Mekanisme <em>updraft</em> dan <em>downdraft</em> cukup baik ditangkap oleh DWR, beserta dengan pola reflektivitas yang menyertainya. mekanisme terjadinya inisiasi konvektif tidak dapat disimpulkan secara langsung hanya menggunakan radar cuaca, dibutuhkan simulasi model numerik untuk mengetahui penyebab pastinya. Peluang terjadinya hujan es dapat dianalisis dengan cukup baik menggunakan metode VIL, VIL Density, dan metode Waldvogel dengan peluang terjadinya hujan es untuk metode Waldvogel lebih dari 80%.</p>2022-05-15T00:00:00+00:00Copyright (c) 2022 Jurnal Aplikasi Meteorologihttps://stmkg.balai2bmkg.id/index.php/jam/article/view/18Analisis Pengaruh Fenomena Mascarene High Terhadap Tinggi Gelombang di Perairan Selatan Kabupaten Kebumen (Studi Kasus Gelombang Tinggi Tanggal 24-28 Juli 2018)2022-05-15T15:27:55+00:00R.Lukman Heryadilukmankuyi@gmail.comMade Bayu Gana Putralukmankuyi@gmail.com<p>Pada tanggal 25 Juli 2018 terjadi peristiwa meluapnya air laut di pesisir selatan Kabupaten Kebumen. Kondisi tersebut diindikasikan terjadi karena adanya pengaruh fenomena Mascarene High di selatan wilayah Indonesia dan diperparah dengan terbentukknya siklon tropis Jongdari di wilayah utara Indonesia. Berdasarkan kondisi tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fenomena Mascarene High terhadap dinamika laut di perairan selatan Kebumen. Data yang digunakan dalam melakukan analisis yaitu data streamline angin permukaan yang digunakan untuk menganalisis pengaruh synoptik pada saat kejadian, data angin permukaan dan mean sea level pressure yang digunakan untuk menganalisis gradient tekanan yang terbentuk, data gelombang signifikan dan primary swell yang digunakan untuk menganalisis karakteristik gelombang pada saat kejadian, data sea surface temperature digunakan untuk menganalisis kejadian upwelling serta data pasang surut air laut yang digunakan untuk menganalisis pengaruhnya terhadap peningkatan ketinggian gelombang laut. Pada saat kejadian meluapnya air laut ke daratan, terlihat bahwa ketinggian gelombang laut mencapai ketinggian 5 m, dan kondisi ini meningkat seiring dengan peningkatan kecepatan angin.</p>2022-05-15T00:00:00+00:00Copyright (c) 2022 Jurnal Aplikasi Meteorologi